
Menuju Ketahanan Air, Pusbang Mitigasi Kembangkan Model Pengembangan Mitigasi Bencana Banjir
Bogor – Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan (Pusbang Mitigasi) memaparkan Formulasi Pengembangan Mitigasi Bencana Banjir dalam kegiatan Ekspose Pusbang Mitigasi yang diselenggarakan di Kantor Pusbang Mitigasi, Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder terkait baik dari Kementerian Kehutanan maupun dari luar kementerian sebagai bagian dari penguatan sinergi penanganan bencana hidrometeorologi kehutanan.
Dalam paparannya, tim penyusun menjelaskan bahwa banjir masih menjadi salah satu bencana hidrometeorologi paling dominan di Indonesia. Dari ribuan kejadian bencana alam dalam satu tahun terakhir, mayoritas merupakan bencana hidrometeorologi, dengan banjir sebagai kejadian terbanyak. Banjir dipicu oleh berbagai faktor, antara lain curah hujan tinggi, perubahan tutupan lahan, kerusakan hutan, berkurangnya daerah resapan air, serta sistem drainase yang kurang optimal.
Formulasi model yang dikembangkan Pusbang Mitigasi menitikberatkan pada pendekatan mitigasi di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Kehutanan dalam pengelolaan sumber daya hutan dan lahan. Model ini disusun dalam empat tahapan utama, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, serta penguatan kebijakan.
Pada tahap perencanaan, dilakukan identifikasi DAS prioritas rawan banjir, pemetaan tutupan lahan dan lahan kritis, serta analisis kondisi hidrologi. Penyusunan rencana aksi terpadu dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta guna memastikan pendekatan kolaboratif.
Tahap pelaksanaan difokuskan pada aksi nyata di lapangan melalui rehabilitasi hutan dan lahan, penerapan konservasi tanah dan air baik secara vegetatif maupun sipil teknis, serta penguatan sistem peringatan dini berbasis hidrometeorologi. Upaya ini diarahkan untuk mengurangi erosi, sedimentasi, serta menekan potensi limpasan permukaan yang memicu banjir.
Sementara itu, tahap monitoring dan evaluasi dilakukan melalui pemantauan rutin terhadap perubahan tutupan lahan, kualitas air sungai, serta capaian indikator program. Keberhasilan model diukur melalui penurunan frekuensi dan luas genangan banjir, peningkatan tutupan lahan di hulu DAS, berkurangnya tingkat erosi dan sedimentasi, serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan dan pengawasan kondisi sungai.
Pada tahap penguatan kebijakan, model ini mendorong integrasi strategi mitigasi banjir ke dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, termasuk dukungan legislasi, penguatan kelembagaan, alokasi anggaran berkelanjutan, serta penegakan hukum tata ruang di kawasan hulu DAS.
Ekspose Pusbang Mitigasi diselenggarakan pada Kamis (11/12/2025). Melalui agenda ini, Pusbang Mitigasi menegaskan komitmennya untuk menghadirkan model mitigasi banjir berbasis sains, data, dan kolaborasi multipihak, guna mendukung pengelolaan DAS yang lebih tangguh dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Tim Media dan PPID Pusbang Mitigasi