Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus

KHDTK Cemoro – Modang

KHDTK

Cemoro – Modang

Kondisi Geografis

KHDTK Cemoro – Modang memiliki luas 1.335,10 ha sesuai dengan SK Menteri LHK Nomor 1057 tahun 2024 tentang Penetapan KHDTK Cemoro – Modang. KHDTK Cemoro – Modang berada pada ketinggian 95–310 mdpl, Sub DAS Cemoro dan sub-sub Das Modang memiliki topografi datar sampai dengan bergelombang. Iklim KHDTK Cemoro – Modang termasuk dalam tipe D (sedang) atau iklim monsoon, mempunyai perbedaan yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau dengan suhu rata-rata sebesar 24,9–26,3 °C. Musim kering terjadi antara bulan Juni–November dan musim hujan pada bulan Desember–Mei, dengan curah hujan tahunan 1.600–2.000 mm/tahun dan curah hujan rata-rata setiap tahunnya sebesar 1.452 mm/tahun. KHDTK Cemoro – Modang secara admistratif termasuk dalam wilayah Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. KHDTK Cemoro – Modang berada di wilayah pemangkuan KPH Cepu Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah.

Biofisik Kawasan

KHDTK Cemoro – Modang berdasarkan fungsinya merupakan hutan produksi, tipe hutan termasuk tipikal hutan monsoon dengan tipe ekosistem hutan rimba daun gugur pada musim kemarau. Vegetasi yang mendominasi adalah tanaman yang mampu menggugurkan daun yang tersusun dalam hutan monsoon (musim) seperti jati.

Jenis tutupan lahan didominasi oleh tegakan tanaman jati dengan sebaran kelas umur (KU) muda (KU I) sampai dengan KU tua (KU XVI), baik dengan pertumbuhan yang normal maupun kurang, juga ditemukan beberapa spesies tanaman lain yang tumbuh pada areal KHDTK khususnya di kiri kanan sungai. Jenis tumbuhan tersebut diantaranya ipik (Ficus retusa), johar (Casia siamea), trembesi (Samanea saman), ploso (Butea monosperma), sonokeling (Dalbergia latifolia), kaliandra (Calliandra callothyrsus), kemlandingan (Leucaena leucocepala), sonokembang (Dalbergia sisso), walikukun (Schoutenia ovata), jambu klampok (Syzygium aqueum). Tumbuhan bawah yang banyak ditemui adalah rumput gajah (Poaceae), kerinyu (Eupatorium inolifolium), wedusan (Derris polyphylla), uyah-uyahan (Ficus quersifolia), serta jenis lainnya. Adapun untuk jenis fauna yang umum dijumpai pada areal KHDTK adalah sejenis binatang melata (seperti kadal, bunglon, ular tanah), burung emprit, ulat/enthung jati, dan binatang air (cethol/bayong, cebong, katak, ikan yang ada di sungai).

Lokasi KHDTK berada pada zona ekologi hutan dataran rendah (geologi zona Randublatung), dengan kondisi topogrofi/geomorfologi datar sampai berombak (bergelombang). Sungai yang mengalir di dalamnya antara lain Sungai Modang yang bermuara pada Sungai Cemoro. Jenis tanah di KHDTK Cemoro – Modang terdiri dari grumusol coklat, mediteran, dan lithosol. Formasi geologi dari jenis plistosen dengan batuan sedimen. Karakteristik tanah secara umum memiliki pH berkisar antara 7,1–7,9; BO antara 1,14–5,63%, kadar N total 0,05–0,17%; kadar P tersedia antara 3,25–15,22 ppm; kadar K tersedia antara 0,23–0,55 me/100g; BJ antara 1,92–2,39; BV antara 1,18–1,47; serta permeabilitas rata-rata 17,18 cm/jam dengan kelas sedang sampai cepat.

Potensi Sumber Daya Hutan

Jenis flora di KHDTK Nusa Penida didominasi oleh jenis gamal dan lamtoro yang merupakan hasil kegiatan penghijauan beberapa tahun lalu. Jenis-jenis lain seperti tanaman juwet, bekul (Ziziphus cucuba), santan, kesambi, kepuh (Sterculia poatida) ditemukan juga di dalam kawasan dengan penyebaran yang sangat jarang. Selain itu juga ditemukan beberapa jenis ficus/beringin di sepanjang aliran sungai. Jenis fauna yang dapat dijumpai adalah jenis burung migran seperti elang, jalak putih, dan tekukur, serta jenis monyet ekor panjang.

Karakterisitik biofisik lingkungannya yang khas menjadikan pengelolaan KHDTK Nusa Penida menemui beberapa tantangan. Lahan yang curam, curah hujan rendah, kondisi tanah kering dan berkapur, persediaan air sedikit, menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, pada pengelolaannya perlu diarahkan pada upaya mengembangkan jenis-jenis tanaman yang adaptif dan produktif serta penerapan teknik-teknik rehabilitasi yang mampu meningkatkan daya dukung ekologis kawasan terhadap masyarakat sekitar dan terhadap wilayah bawahannya. Telah dilakukan upaya penanaman tanaman johar dengan teknik terasering, di mana tanaman johar dinilai adaptif dengan kondisi biofisik KHDTK Nusa Penida.

Meskipun demikian, KHDTK Nusa Penida memiliki beberapa potensi di antaranya pemandangan yang menarik, potensi tanaman pakan, dan kondisi masyarakat sekitar yang menjaga keberadaan hutan. KHDTK Nusa Penida memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata karena memiliki bentangan alam yang khas dengan topografi tinggi dan berbukit sehingga pada lokasi tertentu dapat memperoleh pemandangan indah tanpa terhalang vegetasi/pepohonan yang ada. Pada lokasi-lokasi tertinggi di KHDTK Nusa Penida yang memiliki view menarik sangat berpotensi menjadi spot pengambilan foto. Selain itu, lokasi-lokasi tersebut dapat diidentifikasi untuk melakukan kegiatan lintas alam yang dimulai dari pinggir pantai hingga ke lokasi tertinggi, secara bertahap untuk melihat pemandangan matahari terbenam (sunset). Potensi ekowisata ini juga didukung oleh perkembangan destinasi wisata di Nusa Penida.

Galeri KHDTK Cemoro - Modang

Kabar terbaru dari KHDTK