
Pusbang Mitigasi Gali Potensi KHDTK untuk Peluang Kerja Sama
Sebagai bagian pelaksanaan tugas pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK), Pusat Pengembangan Adaptasi dan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan (Pusbang Mitigasi), melakukan diskusi penggalian informasi potensi KHDTK bersama para pelaksana di kantor Pusbang Mitigasi, Bogor (22/07/2025).
“Berdasarkan Nota Dinas Kepala Biro Umum Nomor 486 Tahun 2025 tanggal 14 April 2025, tentang Penetapan Pengelola KHDTK eks-BSI LHK, terdapat enam KHDTK yang diusulkan untuk dikelola oleh Pusbang Mitigasi yaitu Cemoro Modang di Jawa Tengah, Tumbang Nusa di Kalimantan Tengah, Kemampo di Sumatera Selatan, Nusa Penida di Bali, Rarung di Nusa Tenggara Barat, dan Yanlapa di Jawa Barat,” jelas Anny Meilani atau Mella, Kepala Bidang Fasilitasi Penerapan Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan.
Saat ini, keenam KHDTK tersebut menunggu surat keputusan Menteri Kehutanan yang masih dalam proses pengesahan. Menurut Mella, sambil menunggu proses tersebut, Pusbang Mitigasi akan melakukan identifikasi dan survei ke lapangan untuk mengetahui kondisi terkini dan sebagai bahan penyusunan profil KHDTK.
Memperkaya informasi KHDTK, turut hadir perwakilan pelaksana pengelola KHDTK sebelumnya yaitu unit kerja yang semula bernama Balai Penerapan Standar Instrumen (BPSI) dari wilayah Solo, Mataram, Banjar Baru, Bogor, Mataram dan Palembang, serta Pusat Standardisasi Instrumen Hutan Berkelanjutan yang saat ini sudah berubah nomenklatur menjadi Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan. Beberapa poin yang dibahas dalam diskusi tersebut adalah potensi KHDTK, jenis kegiatan KHDTK, tantangan dan permasalahan, hingga peluang kerja sama.
Berdasarkan hasil diskusi, diketahui bahwa salah satu KHDTK yang rawan terhadap bencana hidrometeorologi adalah KHDTK Tumbang Nusa yang rawan terhadap bencana kebakaran. Terkait hal ini, beberapa waktu lalu Pusbang Mitigasi telah melakukan kunjungan lapangan ke KHDTK Tumbang Nusa.
“Ancaman terbesar di KHDTK Tumbang Nusa adalah kebakaran hutan, jika terbakar sedikit saja terbakar maka akan sangat viral. Saat ini upaya pencegahan kebakaran yang dilakukan antara lain pengurasan sumur bor, pemasangan spanduk pencegahan karhutla, dan menutup akses masuk areal rawan kebakaran,” tutur Mella.
Sementara itu, menurut Enjang Sopiyudin, Kepala Bidang Perencanaan dan Formulasi Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan, banyak peluang kerja sama yang dapat dituangkan dalam pengelolaan KHDTK antara lain yaitu, pengelolaan ekowisata, pengelolaan sumber benih atau perbenihan, jasa lingkungan, rehabilitasi DAS, potensi HHBK, dan pemberdayaan masyarakat.
“Salah satu contoh kerja sama terdapat di KHDTK Tumbang Nusa, yaitu dengan PT. Tuah Turangga Agung, berupa kegiatan pembangunan camp peat, pemeliharaan lanjutan tanaman rehabilitasi, pemberdayaan masyarakat dan inventarisasi keanekaragaman hayati,” terangnya.(*)









—
Penulis: Mamay Maisaroh, S.Hut, M.Si., Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Muda
Editor: Dr. Wening Sri Wulandari, S.Hut., M.Si., Kepala Pusbang Mitigasi