Berita Pusbang
Perkuat Ketahanan Pesisir, Pusbang Mitigasi Kembangkan Model Pelindung Mangrove

Perkuat Ketahanan Pesisir, Pusbang Mitigasi Kembangkan Model Pelindung Mangrove

Bogor – Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan (Pusbang Mitigasi) memaparkan Rekomendasi Model Pelindung Tanaman Mangrove dalam kegiatan Ekspose Pusbang Mitigasi yang diselenggarakan di Kantor Pusbang Mitigasi, Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder terkait baik dari Kementerian Kehutanan maupun dari luar kementerian sebagai bagian dari penguatan mitigasi bencana hidrometeorologi di wilayah pesisir.

Dalam paparannya disampaikan bahwa mangrove memiliki fungsi ekologis, fisik, dan sosial-ekonomi yang sangat strategis. Secara global, luas mangrove dunia mencapai sekitar 14,8 juta hektare (2020), dan Indonesia memiliki sekitar 21 persen dari total tersebut. Data tahun 2024 menunjukkan luas mangrove Indonesia mencapai sekitar 3,4 juta hektare, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan peran kunci dalam konservasi dan rehabilitasi mangrove dunia.

Namun demikian, ekosistem mangrove menghadapi berbagai tekanan, seperti konversi lahan, gangguan hidrologi, serta pembangunan pesisir yang tidak terkendali. Kerusakan mangrove berdampak pada meningkatnya abrasi, banjir rob, serta emisi gas rumah kaca (GRK). Oleh karena itu, upaya rehabilitasi mangrove dinilai perlu didukung dengan komponen teknis berupa pelindung tanaman mangrove agar bibit mampu melewati fase kritis pertumbuhan awal.

Merujuk pada Lampiran VI Peraturan Menteri LHK Nomor 23 Tahun 2021, pelindung tanaman mangrove merupakan bagian penting dalam memastikan kondisi tapak tetap mendukung pertumbuhan bibit. Model pelindung dapat diterapkan secara individu maupun dalam hamparan kawasan, menyesuaikan dengan kondisi biofisik, ekologis, sosial, dan kelembagaan setempat.

Beberapa model pelindung yang dipaparkan antara lain kombinasi break water dan perangkap sedimen, pemasangan jaring, selongsong bambu, serta guludan. Pada lokasi dengan gelombang dan abrasi tinggi, kombinasi pemecah ombak dan perangkap sedimen efektif meredam energi gelombang dan memperlambat laju abrasi. Di wilayah dengan gangguan sampah dan ternak, pemasangan jaring dan ajir bambu dapat melindungi bibit dari kerusakan fisik. Sementara itu, pada lokasi yang terendam cukup dalam, model selongsong bambu dan guludan membantu menyediakan media tanam yang lebih stabil.

Paparan juga menampilkan praktik lapangan di beberapa wilayah pesisir seperti Mempawah (Kalimantan Barat), Angke Kapuk (DKI Jakarta), dan Tanjung Pasir (Banten), yang menunjukkan bahwa pemilihan model pelindung harus disesuaikan dengan karakter arus, gelombang, substrat, serta dinamika sosial masyarakat setempat.

Selain aspek teknis, Pusbang Mitigasi menekankan pentingnya integrasi pendekatan biofisik, ekologis, sosial, dan institusional dalam rehabilitasi mangrove. Pelindung tanaman tidak hanya berfungsi memperbaiki kondisi tapak, tetapi juga menjadi penghalang terhadap gangguan hama, ternak, dan sampah.

Sebagai tindak lanjut, direkomendasikan penyusunan panduan teknis pemilihan model pelindung tanaman mangrove berdasarkan kondisi lokasi yang mengintegrasikan aspek teknis, biofisik-ekologis, dan sosial. Selain itu, diperlukan penyempurnaan regulasi agar secara lebih spesifik mengatur perlindungan tanaman mangrove dari berbagai gangguan, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan mangrove dan pemanfaatan pelindung tanaman secara efektif.

Ekspose Pusbang Mitigasi diselenggarakan pada Kamis (11/12/2025). Melalui agenda ini, Pusbang Mitigasi menegaskan komitmennya untuk memperkuat rehabilitasi mangrove secara adaptif dan berbasis kondisi tapak, guna mendukung perlindungan pesisir, pengurangan risiko bencana, serta peningkatan ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim.


Tim Media dan PPID Pusbang Mitigasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *