
Coll-Tapak: Langkah Nyata Kolaboirasi Multipihak Bencana Hidrometeorologi Kehutanan
Di tengah berkembangnya isu perubahan iklim, kehilangan biodiversitas, dan peningkatan polusi, yang dapat memicu timbulnya bencana hidrometeorologi kehutanan, satu kata kunci yaitu kolaborasi menjadi salah satu upaya penting untuk mendukung tugas dan fungsi Kementerian Kehutanan. Hal ini ditegaskan Mahfudz, Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan, saat membuka acara Komunikasi Coll-Tapak : Kolaborasi Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan di Jakarta (3/7/2025).
“Program Coll-Tapak yang diinisiasi oleh Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan (Pusbang Mitigasi) akan sangat mendukung tugas-tugas Kementerian Kehutanan dan para pemangku kepentingan lainnya, dengan strategi pelaksanaan kolaborasi para pihak serta memperkuat sistem yang sudah ada untuk penanganan isu-isu kehutanan,” tutur beliau.
Strategi lainnya, yaitu Integrasi dan Penguatan di Tingkat Tapak, disebutkan Mahfudz, diimplementasikan melalui integrasi program daerah dan pusat, yang akan dikawal oleh Koordinator UPT Kementerian Kehutanan.
“Permasalahan di tingkat tapak akan dianalisis secara komprehensif untuk dirumuskan kebijakan yang tepat oleh pemerintah pusat,” jelasnya.
Mahfudz juga berharap program Coll-Tapak dapat memberikan manfaat nyata, antara lain yaitu efisiensi pendanaan, penurunan jumlah korban, serta antisipasi kebijakan untuk menjaga ekosistem hutan. Untuk itu, ia menekankan bahwa dukungan dari seluruh pihak sangat diperlukan agar program Coll-Tapak dapat berjalan dengan baik, dan memberikan dampak positif bagi mitigasi dan adaptasi bencana hidrometeorologi kehutanan di Indonesia.
Senada dengan Sekjen Kemenhut, Supari, Koordinator Analisis Variabilitas Iklim dari Direktorat Perubahan Iklim BMKG, juga menyampaikan dukungan terhadap program kolaborasi ini. “Jika diimplementasikan di tingkat tapak maka kami akan kolaborasi dengan UPT BMKG di provinsi setempat agar dapat saling mendukung data bencana hidrometeorologi kehutanan, mengingat basis data di BMKG sifatnya terpusat,” terangnya.
Dukungan serupa juga disampaikan oleh Hadi Sutrisno, Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda dari Direktorat Kesiapsiagaan BNPB. Ia menyampaikan bahwa implementasi Coll-Tapak dapat diperkaya dengan kegiatan peningkatan kapasitas di tingkat desa, sebagai unit administrasi terkecil yang umum terkena dampak bencana.
“Pusbang Mitigasi sebagai unit khusus di Kemenhut yang menangani bencana, maka dapat berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator PMK yang menangani isu bencana dan perubahan iklim di tingkat desa, kelurahan dan tingkat tapak lainnya. Hal ini terkait alokasi dana desa yang dapat digunakan sebagai program ketahanan pangan dan ketahanan bencana,” lanjutnya.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya oleh Kepala Pusbang Mitigasi, Wening Sri Wulandari, bahwa program Coll-Tapak ada tiga, yaitu penguatan tata kelola kolaboratif, peningkatan kapasitas kelembagaan di tingkat tapak, dan diseminasi program dan kegiatan.
“Kegiatan pokok Coll-Tapak yaitu fasilitasi sinergi antar pemangku kepentingan, integrasi data dan informasi, koordinasi aksi kolaboratif kegiatan aksi mitigasi dan adaptasi dan penerapan model pengembangan, peningkatan kapasitas kelembagaan dan komunitas lokal, serta diseminasi program dan kegiatan,” terangnya.
Sementara itu, tanggapan Koordinator Wilayah UPT Kemenhut juga menunjukkan optimisme.
“Kami sangat menyambut baik rencana Coll Tapak ini. Sebagai contoh adalah forum khusus terkait informasi pengendalian kebakaran hutan. Kami melihat simpul atau objek dari mitigasi dan adaptasi ini adalah masyarakat, sehingga yang perlu diperkuat adalah kapasitas dan dukungan masyarakat,” ujar Adhi Nurul Hadi, Kepala Balai Besar KSDA NTT.
Ia juga menyarankan perlunya kegiatan peningkatan kapasitas dari tenaga peneliti BRIN di daerah. Khusus untuk bencana kekeringan, koordinasi dengan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air juga penting, terkait dengan upaya penyediaan air saat bencana kekeringan.
“Kami berharap Coll-Tapak ini dapat mendukung perluasan informasi khususnya untuk masyarakat sebagai yang terdampak bencana,” pungkasnya.
Dilaksanakan secara hybrid, acara Komunikasi Coll-Tapak kali ini dihadiri oleh jajaran BNPB, BMKG, Eselon 2 lingkup Kemenhut, Koordinator UPT, UPT Kemenhut, serta pejabat fungsional ahli utama dan pejabat fungsional terkait.(*)
Kontributor Berita :
Tim Media Kehumasan Pusbang Mitigasi
Penanggung Jawab Berita :
Dr. Wening Sri Wulandari – Kepala Pusbangmitigasi