{"id":3638,"date":"2026-02-06T04:54:42","date_gmt":"2026-02-06T04:54:42","guid":{"rendered":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/?p=3638"},"modified":"2026-02-24T02:13:10","modified_gmt":"2026-02-24T02:13:10","slug":"ekspose-pusbang-mitigasi-sajikan-kajian-bencana-hidrometeorologi-2025-berbasis-data","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/?p=3638","title":{"rendered":"Ekspose Pusbang Mitigasi Sajikan Kajian Bencana Hidrometeorologi 2025 Berbasis Data"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Bogor <\/strong>\u2013 Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan (Pusbang Mitigasi) memaparkan hasil <em>Kajian Kejadian Bencana Hidrometeorologi di Indonesia Tahun 2025<\/em> dalam kegiatan Ekspose Pusbang Mitigasi yang diselenggarakan di Kantor Pusbang Mitigasi, Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder terkait baik dari Kementerian Kehutanan maupun dari luar kementerian sebagai bagian dari penguatan respons berbasis data terhadap dinamika bencana hidrometeorologi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam paparannya, tim penyusun menjelaskan bahwa kajian disusun berdasarkan kompilasi dan verifikasi data dari berbagai sumber resmi, antara lain Direktorat PEPDAS Kementerian Kehutanan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD, BRIN, pemerintah daerah, serta portal media elektronik yang telah diverifikasi. Validasi data juga dilakukan melalui tinjauan lapangan oleh tim ke lokasi kejadian untuk memastikan akurasi informasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu fokus paparan adalah <em>Quick Analysis Banjir Sumatera 2025<\/em>. Disampaikan bahwa kejadian banjir dipicu oleh kombinasi faktor global dan lokal. Cuaca ekstrem akibat dinamika iklim global memperkuat intensitas hujan, yang diperparah oleh keberadaan Siklon Tropis Senyar sebagai pemicu langsung hujan ekstrem. Di tingkat lokal, kondisi tanah yang jenuh air, sedimentasi sungai, serta penurunan kapasitas tampung aliran memperbesar dampak genangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain faktor hidrometeorologis, kerusakan ekosistem hulu DAS menjadi pengganda dampak. Deforestasi dan alih fungsi lahan dinilai sebagai faktor struktural jangka panjang yang meningkatkan kerentanan wilayah terhadap banjir. Kelemahan tata ruang, perizinan, serta infrastruktur pengendalian turut memperburuk kondisi ketika terjadi cuaca ekstrem.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai tindak lanjut, Pusbang Mitigasi merekomendasikan sejumlah langkah strategis, antara lain perlindungan prioritas kawasan hulu, rehabilitasi hutan dan lahan kritis (RHL) berbasis ekologi, penguatan perhutanan sosial sebagai instrumen pengelolaan lanskap, serta penerapan sistem agroforestry yang produktif-konservatif. Penguatan zona riparian, pengendalian erosi dan sedimentasi di lereng hulu, serta pengembangan sistem monitoring spasial dan informasi DAS terintegrasi juga menjadi prioritas.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, diperlukan integrasi kehutanan dengan tata ruang berbasis risiko, pengendalian alih fungsi lahan, pembiayaan berkelanjutan, serta koordinasi lintas sektor dalam pengelolaan DAS. Pendekatan <em>adaptive management<\/em> berbasis bukti dan integrasi program kehutanan dengan sistem peringatan dini menjadi bagian penting dalam memperkuat ketangguhan wilayah.<\/p>\n\n\n\n<p>Ekspose Pusbang Mitigasi diselenggarakan pada Kamis (11\/12\/2025). Melalui agenda ini, Pusbang Mitigasi menegaskan komitmennya untuk menghadirkan analisis cepat dan rekomendasi berbasis data sebagai dasar pengambilan kebijakan dalam mitigasi dan adaptasi bencana hidrometeorologi kehutanan secara terintegrasi dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Ekspose-Pusbang-Mitigasi-11Des2025-2-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3626\" srcset=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Ekspose-Pusbang-Mitigasi-11Des2025-2-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Ekspose-Pusbang-Mitigasi-11Des2025-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Ekspose-Pusbang-Mitigasi-11Des2025-2-768x512.jpg 768w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Ekspose-Pusbang-Mitigasi-11Des2025-2-600x400.jpg 600w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Ekspose-Pusbang-Mitigasi-11Des2025-2.jpg 1116w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size\"><strong>Tim Media dan PPID Pusbang Mitigasi<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bogor \u2013 Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan (Pusbang Mitigasi) memaparkan hasil Kajian Kejadian Bencana Hidrometeorologi di Indonesia Tahun 2025 dalam kegiatan Ekspose Pusbang Mitigasi yang diselenggarakan di Kantor Pusbang Mitigasi, Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh stakeholder terkait baik dari Kementerian Kehutanan maupun dari luar kementerian sebagai bagian dari penguatan respons berbasis data terhadap dinamika bencana hidrometeorologi. Dalam&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3639,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[40,1],"tags":[],"class_list":["post-3638","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-pusbang","category-post"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3638","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3638"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3638\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3640,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3638\/revisions\/3640"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3639"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3638"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3638"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3638"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}