{"id":2749,"date":"2025-11-16T16:41:55","date_gmt":"2025-11-16T16:41:55","guid":{"rendered":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/?p=2749"},"modified":"2026-02-24T02:17:25","modified_gmt":"2026-02-24T02:17:25","slug":"sinergi-hebat-tanam-bersama-untuk-kompensasi-jejak-karbon-dan-mitigasi-bencana-hidrometeorologi-kehutanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/?p=2749","title":{"rendered":"Sinergi Hebat: Tanam Bersama untuk Kompensasi Jejak Karbon dan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan"},"content":{"rendered":"\n<p>Sebagai kompensasi atas jejak karbon Kementerian Kehutanan, Sekretariat Jenderal laksanakan penanaman sebanyak 900 bibit tanaman MPTS di Rumpin, Bogor (13\/11\/2025). Bertajuk Sinergi Hebat Sekretariat Jenderal: Penanaman Kompensasi Jejak Karbon Kementerian Kehutanan diikuti oleh jajaran Sekretariat Jenderal dan para Staf Ahli Menteri Kehutanan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam arahannya, Sekretaris Jenderal, Mahfudz, menyampaikan bahwa kegiatan ini mendorong seluruh pihak agar giat menanam pada setiap ruang kosong untuk mendukung penurunan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan penyerapan karbon.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pemerintah juga telah menargetkan 10 jt ha untuk rehabilitasi hutan, dan hari ini kita menunjukkan bahwa tanggung jawab itu bukan pada orang lain, melainkan diri kita sendiri,&#8221; tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya jenis MPTS, penanaman kali ini dilaksanakan dengan pola Agroforestry yang mengkombinasikan dengan tanaman semusim untuk mendukung pertumbuhan tanaman MPTS sebagai tanaman pokok.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Hari ini kita mencoba pola agroforestry yang dapat menjadi manfaat ganda, di samping mendapat manfaat iklimnya, tetapi juga mendapat manfaat ekonominya,&#8221; jelas Mahfudz.<\/p>\n\n\n\n<p>Beliau juga mengajak para pihak untuk dapat melakukan penanaman pada lahan Perhutanan Sosial yang memiliki potensi serapan karbon, dan menjadikan hal tersebut sebagai contoh bagi pendamping-pendamping di lokasi Perhutanan Sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Jika komitmen ini bisa kita lakukan, tentu akan menjadi bagian penting dari upaya Kementerian Kehutanan untuk mendorong penyerapan gas rumah kaca dan mendorong pertumbuhan ekonomi kita,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan, Wening Sri Wulandari menyampaikan bahwa aktivitas organisasi maupun pribadi memiliki kontribusi terhadap jejak karbon, baik itu tranportasi sehari-hari, penggunaan energi, maupun konsumsi sumber daya lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Hasil perhitungan jejak karbon berasal dari sumber emisi langsung, yaitu penggunaan transportasi dan sumber emisi tidak langsung dari penggunaan energi listrik dan sebagainya.&#8221; jelasya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh satuan kerja yang telah mendukung ketersediaan data untuk penghitungan jejak karbon lingkup Kementerian Kehutanan. &#8220;Ini merupakan bentuk sinergi hebat dari jajaran Sekretariat Jenderal Kementerian Kehutanan,&#8221; ujarnya bangga. Pada akhir laporannya, Wening menyampaikan sejumlah harapan dan optimisme.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSemoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi keberlangsungan alam kita, sekaligus sebagai upaya nyata aksi mitigasi dan adaptasi bencana hidrometeorologi kehutanan\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Turut berpartisipasi dalam penanaman, Staf Ahli Menteri Bidang Revitalisasi Industri Kehutanan, Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Perdagangan Internasional, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah, serta Kepala Balai P2SDM Wilayah III Bogor dan para staf terkait. (*)<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"960\" height=\"722\" data-id=\"2752\" src=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2752\" srcset=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-2.jpg 960w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-2-300x226.jpg 300w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-2-768x578.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 960px) 100vw, 960px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"960\" height=\"722\" data-id=\"2753\" src=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-3.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2753\" srcset=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-3.jpg 960w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-3-300x226.jpg 300w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-3-768x578.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 960px) 100vw, 960px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"770\" height=\"1023\" data-id=\"2754\" src=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-4.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2754\" srcset=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-4.jpg 770w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-4-226x300.jpg 226w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-4-768x1020.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 770px) 100vw, 770px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"770\" data-id=\"2755\" src=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2755\" srcset=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-1.jpg 1024w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-1-300x226.jpg 300w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/penanamanrumpin-1-768x578.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai kompensasi atas jejak karbon Kementerian Kehutanan, Sekretariat Jenderal laksanakan penanaman sebanyak 900 bibit tanaman MPTS di Rumpin, Bogor (13\/11\/2025). Bertajuk Sinergi Hebat Sekretariat Jenderal: Penanaman Kompensasi Jejak Karbon Kementerian Kehutanan diikuti oleh jajaran Sekretariat Jenderal dan para Staf Ahli Menteri Kehutanan. Dalam arahannya, Sekretaris Jenderal, Mahfudz, menyampaikan bahwa kegiatan ini mendorong seluruh pihak agar giat menanam pada setiap ruang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2750,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[40,1],"tags":[],"class_list":["post-2749","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-pusbang","category-post"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2749","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2749"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2749\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2756,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2749\/revisions\/2756"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2750"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2749"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2749"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2749"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}