{"id":2721,"date":"2025-06-11T01:55:13","date_gmt":"2025-06-11T01:55:13","guid":{"rendered":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/?p=2721"},"modified":"2026-02-24T02:21:17","modified_gmt":"2026-02-24T02:21:17","slug":"kementerian-kehutanan-kuatkan-kolaborasi-pengelolaan-hutan-lintas-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/?p=2721","title":{"rendered":"Kementerian Kehutanan Kuatkan Kolaborasi Pengelolaan Hutan Lintas Agama"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mendukung kolaborasi dalam pelestarian hutan, serta mitigasi dan adaptasi bencana hidrometeorologi, Kementerian Kehutanan, diwakili oleh Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan (Pusbang Mitigasi), turut hadir dalam kegiatan Pembekalan Ilmiah Pemuka Agama dan Komunitas Keagamaan tentang Hutan, Manusia, dan Bumi, di kantor BMKG, Jakarta (11\/06\/2025).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam acara yang digagas oleh organisasi Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia ini, Kepala Pusbang Mitigasi, Wening Sri Wulandari, menyampaikan <em>best practices<\/em> yang telah dilakukan oleh Kementerian Kehutanan dalam kolaborasi lintas. \u201cTerdapat tiga program kegiatan yang dilaksanakan, yaitu EcoPesantren, sebuah upaya mengintegrasikan konservasi dan pengelolaan lingkungan dalam kegiatan pesantren), Program Green Ramadhan, yaitu kampanye hemat energi dan penanaman pohon di bulan Ramadhan, serta Hutan dan Iman, yaitu menggandeng tokoh Agama dan lembaga keagamaan untuk membangun kesadaran spiritual dalam menjaga hutan,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih lanjut ia menerangkan bahwa saat ini Pusbang Mitigasi sedang mengembangkan kerangka kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat dan agama serta komunitas lokal dalam upaya mitigasi dan adaptasi bencana hidrometeorologi kehutanan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cRuang lingkup dari kegiatan ini antara lain, yaitu memfasilitasi penyusunan kebijakan berbasis bukti (<em>evidence-based policy<\/em>) melalui forum multipihak dalam pengurangan risiko bencana, dan membangun kemitraan strategis dengan lembaga nasional dan internasional guna mendukung pendanaan, pertukaran pengetahuan, dan penerapan inovasi dalam adaptasi perubahan iklim di sektor kehutanan, serta mengintegrasikan pendekatan partisipatif dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan mitigasi,\u201d Wening menerangkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melengkapi kegiatan kolaborasi, akan dilakukan workshop, dan dialog multipihak untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan meningkatkan pemahaman bersama tentang risiko dan strategi adaptasi bencana. \u201cKolaborasi ini diharapkan dapat mendorong harmonisasi data dan sistem informasi lintas instansi yang mendukung pemantauan risiko bencana hidrometeorologi secara terpadu dan responsif, serta di akhir akan dilakukan evaluasi efektivitas kolaborasi multipihak secara berkala, dan menyesuaikan strategi berdasarkan hasil pembelajaran dan dinamika sosial-ekologis di lapangan,\u201d tuturnya optimis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelumnya saat pembukaan, Tri Handoko, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca mewakili Kepala BMKG juga menegaskan pentingnya peran hutan dalam perubahan iklim. \u201cHutan berperan penting dalam menjaga keseimbangan karbon, sehingga pelestarian hutan adalah strategi kunci dalam mengatasi perubahan iklim,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terkait bencana, Tri Handoko menyampaikan bahwa kebakaran hutan dan lahan memperparah krisis iklim, karena menyebabkan pelepasan karbon dalam jumlah besar, merusak ekosistem, dan mengganggu kesehatan serta aktivitas sosial ekonomi masyarakat ekosistem, dan mengganggu kesehatan serta aktivitas sosial ekonomi masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cOleh karena itu, kolaborasi multipihak sangat dibutuhkan. Penanganan perubahan iklim dan pelestarian hutan memerlukan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat sipil, tokoh agama, dan komunitas lokal. Peningkatan pemahaman tentang peran hutan dan perubahan iklim perlu diikuti dengan aksi nyata di tingkat individu, komunitas, dan institusi,\u201d demikian arahannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam kesempatan yang sama, Hayu Prabowo dari IRI sangat optimis bahwa peran organisasi keagamaan untuk pengelolaan hutan tropis akan sangat bermanfaat. \u201dJaringan organisasi keagamaan dan pemimpin agama yang saling terhubung menjangkau secara global dan melampaui batas politik. Hal ini menjadikan alur yang efektif dan praktis untuk mengatasi perusakan hutan dan perubahan iklim dan mendorong pembangunan berkelanjutan,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menambahkan informasi, Afif Afian dari BNPB, juga menjelaskan prosedur penyelenggaraan penanggulangan bencana yang terdiri dari 3 bagian yaitu, pra bencana, saat bencana dan pasca bencana. \u201cPra bencana yaitu Manajemen Risiko Bencana, Saat Bencana yaitu Manajemen Darurat Bencana, dan Pasca bencana yaitu Manajemen Pemulihan Pasca Bencana,\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kolaborasi dengan pemuka agama ini sangat sejalan dengan inisiasi Pusbang Mitigasi yang sedang dibangun, yaitu Kolaborasi Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan di Tingkat Tapak, yaitu <em>Coll-Tapak.<\/em> (*)<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"461\" data-id=\"2724\" src=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-1-1024x461.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2724\" srcset=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-1-1024x461.jpg 1024w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-1-300x135.jpg 300w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-1-768x346.jpg 768w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-1-1536x691.jpg 1536w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-1.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"461\" data-id=\"2725\" src=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-5-1024x461.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2725\" srcset=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-5-1024x461.jpg 1024w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-5-300x135.jpg 300w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-5-768x346.jpg 768w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-5-1536x691.jpg 1536w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-5.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"461\" data-id=\"2722\" src=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-4-1024x461.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2722\" srcset=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-4-1024x461.jpg 1024w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-4-300x135.jpg 300w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-4-768x346.jpg 768w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-4-1536x691.jpg 1536w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-4.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"461\" data-id=\"2726\" src=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-2-1024x461.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2726\" srcset=\"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-2-1024x461.jpg 1024w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-2-300x135.jpg 300w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-2-768x346.jpg 768w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-2-1536x691.jpg 1536w, https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/PusbangMitigasi-IRI-2.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"has-small-font-size wp-block-paragraph\"><strong>Kontributor Berita :<\/strong><br>Tim Media Kehumasan Pusbang Mitigasi<br><strong>Penanggung Jawab Berita :<\/strong><br>Dr. Wening Sri Wulandari \u2013 Kepala Pusbangmitigasi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mendukung kolaborasi dalam pelestarian hutan, serta mitigasi dan adaptasi bencana hidrometeorologi, Kementerian Kehutanan, diwakili oleh Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi Kehutanan (Pusbang Mitigasi), turut hadir dalam kegiatan Pembekalan Ilmiah Pemuka Agama dan Komunitas Keagamaan tentang Hutan, Manusia, dan Bumi, di kantor BMKG, Jakarta (11\/06\/2025). Dalam acara yang digagas oleh organisasi Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia ini, Kepala Pusbang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2727,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[40,1],"tags":[],"class_list":["post-2721","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-pusbang","category-post"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2721","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2721"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2721\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2728,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2721\/revisions\/2728"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2727"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2721"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2721"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pusbangmitigasi.kehutanan.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2721"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}